CRUEL WORLD

CRUEL WORLD

1 note

Lifetime Self Portrait.

When i was Junior High School…

Then I was Vocational High School 2006-2009…

Early College Student…

But… the hair in previous picture (early college student) make me uncomfortable, so I decided to choose my hair back when I was Junior/Vocational High School, and here we go… hehe…

And finally in the end of college student, I choose this as a lifetime self portrait. yeszz…

There are some FAQ when I have shaven my hair, such as “why?” “do you stress?” “do you want to throw away the bad luck?” “do you want to make a second sunrise?” or some question that refer to preparation deal with serious thing.

Well actually, I choose this because simple. Oke :-}

1 note

MEN666ERINDA
Salah satu momen yang membuat saya berpikir metematis adalah ketika menggerinda pahat bubut HSS ¾ X 4. Dalam melaksanakan proses menggerinda, alangkah baiknya terlebih dahulu mengetahui serta memahami geometri sudut dari berbagai bagian pahat dan memahami teknik gerakan tangan. Lebih jauhnya sambil melakukan perhitungan momen, pertimbangan waktu quenching yang dilakukan hingga perhitungan gesekan yang terjadi ketika menggerinda dengan waktu sesingkat-singkatnya, sehingga mendapatkan hasil akhir yang maksimal serta sempurna. Voila! Mungkin itu salah satu apa yang ada dalam benak saya ketika masuk dalam bangku perkuliahan HA! Brebeda ketika masih duduk di bangku sekolah menengah kejuruan, try and error membuat sudut pahat yang presisi terus terjadi, hingga tak jarang ada sebagian orang yang menghabiskan pahatnya dalam jangka waktu satu hari atau pahat yang sudah digerinda bagaikan bongkahan batu es :O
Hampir sama dengan kerja bangku nuansanya, namun dalam hal ini – menggerinda – memiliki gejala yang berbeda, vibrasi. Vibrasi yang ditimbulkan oleh mesin gerinda menjalar ke tangan hingga terkadang membuat bulu kuduk berdiri dan merinding karena mistisnya aura raungan mesin gerinda dan juga mistisnya bengkel tempat menggerinda.
Tidak hanya vibrasi, momen-momen tertentu ketika menggerinda yang membuat kesal hingga tertawa sering terjadi, baik itu ketika mengantri, kebabalasan menekan pahat ke batu gerinda, kurangnya presisi sudut pahat, tersayat karena tajamnya pahat atau batu gerinda dan masih banyak lagi. Tetapi apapun rintangan  atau halangannya, bila kita mau berusaha dan berprinsip “ulah kumeok memeh dipacok”, pasti tujuan kita akan tercapai. Terakhir ingat! Tanpa gerinda, kita akan sulit mengasah pahat untuk membubut! Terpujilah wahai engkau pembuat mesin gerinda!

Untuk para penggerinda diluar sana! “ulah kumeok memeh dipacok”!!!  \m/

MEN666ERINDA

Salah satu momen yang membuat saya berpikir metematis adalah ketika menggerinda pahat bubut HSS ¾ X 4. Dalam melaksanakan proses menggerinda, alangkah baiknya terlebih dahulu mengetahui serta memahami geometri sudut dari berbagai bagian pahat dan memahami teknik gerakan tangan. Lebih jauhnya sambil melakukan perhitungan momen, pertimbangan waktu quenching yang dilakukan hingga perhitungan gesekan yang terjadi ketika menggerinda dengan waktu sesingkat-singkatnya, sehingga mendapatkan hasil akhir yang maksimal serta sempurna. Voila! Mungkin itu salah satu apa yang ada dalam benak saya ketika masuk dalam bangku perkuliahan HA! Brebeda ketika masih duduk di bangku sekolah menengah kejuruan, try and error membuat sudut pahat yang presisi terus terjadi, hingga tak jarang ada sebagian orang yang menghabiskan pahatnya dalam jangka waktu satu hari atau pahat yang sudah digerinda bagaikan bongkahan batu es :O

Hampir sama dengan kerja bangku nuansanya, namun dalam hal ini – menggerinda – memiliki gejala yang berbeda, vibrasi. Vibrasi yang ditimbulkan oleh mesin gerinda menjalar ke tangan hingga terkadang membuat bulu kuduk berdiri dan merinding karena mistisnya aura raungan mesin gerinda dan juga mistisnya bengkel tempat menggerinda.

Tidak hanya vibrasi, momen-momen tertentu ketika menggerinda yang membuat kesal hingga tertawa sering terjadi, baik itu ketika mengantri, kebabalasan menekan pahat ke batu gerinda, kurangnya presisi sudut pahat, tersayat karena tajamnya pahat atau batu gerinda dan masih banyak lagi. Tetapi apapun rintangan  atau halangannya, bila kita mau berusaha dan berprinsip “ulah kumeok memeh dipacok”, pasti tujuan kita akan tercapai. Terakhir ingat! Tanpa gerinda, kita akan sulit mengasah pahat untuk membubut! Terpujilah wahai engkau pembuat mesin gerinda!

Untuk para penggerinda diluar sana! “ulah kumeok memeh dipacok”!!!  \m/

Filed under Artwork Grinding Menggerinda

0 notes

Rak buku merefleksikan tidak hanya apa yang telah dibacanya, tetapi juga mengenai dirinya.
The Man Who Loved Books To Much. Allison Hoover Bartlett.

0 notes

The Man Who Loved Books Too Much

image

The Man Who Loved Books Too Much, Allison Hoover Bartlett.

Apa yang sanggup kau lakukan demi cintamu pada buku?

Bagi John Charles Gilkey, jawabannya: masuk penjara.

Gilkey, si pencuri buku yang tak pernah bertobat, telah mencuri buku-buku langka dari seluruh penjuru negeri. Namun, tak seperti kebanyakan pencuri yang mencuri demi keuntungan, Gilkey mencuri demi cinta: cinta pada buku. Barangkali, sama obsesifnya dengan Gilkey adalah Ken Sanders, seorang yang menyebut dirinya “bibliodick” (penjual buku yang merangkap sebagai detektif) dan sangat ingin menangkap si pencuri. Sanders – seumur hidup dan menjadi kolektor dan penjual buku langka berubah menjadi detektif amatir – tak akan berhenti memburu si pencuri yang mengacaukan perdagangannya.

Mengantarkan pembaca ke dalam dunia obesesi kesusastraan yang luas dan kaya, The Man Who Loved Books Too Much menunjukan peran besar buku dalam kehidupan kita, penghormatan yang menjadikan buku-buku itu tetap dipertahankan, dan keinginan yang membuat sebagian orang mempertaruhkan apa saja demi memiliki buku yang mereka sukai.

———-

Dari akhir tahun 2013 kemarin, ada suatu hal membuat saya nyaman berada ditempat yang terdapat susunan atau tumpukan buku. Perpustakaan. Mungkin ini dampak dari studi referensi tugas akhir dan studi pendahuluan skripsi, hingga persalinan skripsi, so called sudden fever mahasiswa tingkat akhir. Tempat yang nyaman, tenang serta tidak gaduh, mungkin itu faktor n^2 yang membuat akhir ini saya nyaman bergeming di perpustakaan. Dari perpustakaan, banyak sekali hal yang saya dapatkan mulai dari mengetahui sekaligus memahami berbagai ilmu baru, sejarah, buku yang memiliki muatan unik, menemukan bentuk buku yang unik, cuci mata sambil baca hingga mengetahui tipe para pengunjung perpustakaan yang mungkin saya akan tuangkan dalam post selanjutnya.

Read more …

Filed under The Man Who Loved Books Too Much Book

0 notes

Umpama perbincangan seorang bapak dan anak, namun menyimpan misi.
Pizaro. The Brain Charger.